Mengatur Kabel Loteng Setelah Renovasi
Setelah proses renovasi rumah berakhir, tentunya akan ada
kebutuhan listrik baru yang mengikuti perkembangan kebutuhan ruang.
Distribusi aliran listrik dari kabel loteng kadang terluput dari daftar
pekerjaan renovasi. Hal ini sederhana tetapi akan menjadi cukup vital
dan merepotkan apabila tidak segera dibereskan.
Prinsip sederhana instalasi listrik.
Listrik akan menyala hanya apabila rangkaian yang dipasang
termasuk rangkaian tertutup. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam
merencanakan jaringan listrik di loteng.
1. Membuat sirkuit yang terpisah antara lantai bawah dan
lantai atas. Pemisahan ini bertujuan untuk memudahkan perawatan dan
pengecekan, terutama ketika terjadi kerusakan. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah penambahan jumlah sekering yang dipasang untuk
menjaga perabotan elektronik jika terjadi korsleting. Sirkuit juga
perlu dipasang paralel agar tidak mati lampu semua secara serentak
lantai atas dan bawah.
2. Merencanakan jaringan listrik loteng, terutama dalam
penempatannya. Penempatan yang dimaksud adalah dalam hal posisi titik
lampu, arah hadap lampu, dan posisi benda-benda elektronik. Sesuaikan
dengan kebutuhan ruang Anda. Tandai bagian-bagian mana yang memerlukan
stop kontak atau titik lampu, sehingga nantinya tidak diperlukan terlalu
banyak penambahan kabel saat aliran listrik sudah beroperasi. Misalnya,
di kamar mandi lantai dua, berikan stop kontak yang cukup untuk
kebutuhan pemanas air, alat pengering rambut, maupun alat pencukur
rambut.
3. Menggunakan kabel yang memiliki lapisan pelindung
untuk keamanan, terutama untuk kabel ekspos (tidak ditanam pada bagian
dalam dinding).
Serba-serbi Pencahayaan Loteng
- Setelah permasalahan jaringan listrik beres, selanjutnya kita melangkah menuju desain pencahayaan. Pencahayaan harus sesuai dengan kebutuhan ruangan maupun sasaran estetika. Sama halnya dengan di lantai bawah, lampu di loteng juga harus dapat menerangi bagian ruangan secara jelas, terutama pada jalur tangga yang menjadi akses per lantai. Pada bagian ini, selain harus cukup terang untuk alasan keselamatan, juga merupakan elemen interior yang penting dan dapat dieskspos secara estetika.
- Sebuah lampu dapat dihubungkan dengan dua saklar, yaitu antara saklar di lantai bawah dengan saklar di lantai atas. Hal ini ditujukan sebagai kemudahan dan efisiensi energi, supaya ketika Anda berjalan dari lantai bawah ke atas, tidak perlu turun lagi untuk mematikan lampu yang tidak terpakai, maupun sebaliknya. Dengan kecanggihan sistem saat ini, nyala dan matinya lampu pun dapat dikendalikan dengan remote control dalam sebuah sistem integrasi (yang biasanya terhubung pula dengan sistem keamanan).
Jenis-jenis Posisi Lampu
Seperti yang telah kami singgung bahwa posisi lampu harus
diperhatikan, maka berikut ini akan kami bahas mengenai jenis-jenis
posisi lampu tersebut. Ada tujuh jenis posisi lampu yang dapat
diterapkan dalam desain pencahayaan di loteng Anda yang baru
- Lampu langit-langit
Jenis lampu ini disebut juga ceiling light yang diletakkan pada plafon rumah. Cahaya yang dihasilkan bersifat ambient atau
memberikan nuansa secara merata atay keseluruhan. Untuk mendapatkan
cahaya lampu langit-langit yang lembut pilihlah lampu yang dapat
mengarah ke atas, supaya dibiaskan terlebih dahulu. Untuk mendapatkan
cahaya lampu langit-langit yang lebih kuat, pilihlah lampu yang
menghadap langsung ke arah bawah.
2. Lampu gantung
Jenis lampu ini merupakan sumber cahaya yang paling baik
ke seluruh penjuru ruangan. Apabila loteng baru rumah Anda tidak terlalu
luas, Anda dapat menggunakan lampu gantung untuk efisiensi energi. Hal
ini juga disebabkan tingkat fleksibilitasnya, yaitu ketinggian yang
dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan.
3. Lampu standing dan lampu meja
Jenis lampu ini hanya menerangi sedikit area di sekitar lampu. Lampu standing
dan meja pun dapat dipindah-pindah sesuai dengan kebutuhan.
Dibandingkan dengan penanaman titik saklar, perangkat lampu ini lebih
cocok untuk diposisikan sebagai letak stop kontak.
4. Lampu strip
Jenis lampu ini dipakai pada bagian yang membutuhkan
cahaya terang secara lebih merata namun tidak terlalu kuat, misalnya
pada kamar mandi. Pemasangan posisi lampu tersebut biasanya secara tidak
langsung, yaitu di belakang permukaan kaca, yang bersifat sebagai screen atau penghalang.
5. Lampu downlight dan wallwasher
Jenis lampu ini merupakan kebutuhan yang masih sama dengan
pencahayaan di lantai bawah, yaitu dipasang di plafon dan bagian
dinding. Jenis lampu ini bersifat lebih terang daripada lampu
langit-langit.
6. Lampu sorot
Jenis lampu ini memiliki penyebaran cahaya yang terbatas.
Digunakan untuk aksen sebagai pendukung satu bagian atau elemen interior
yang ingin ditonjolkan. Lampu sorot dapat juga diposisikan menjadi
jenis downlight maupun uplight.
7. Lampu uplight
Jenis lampu ini efektif untuk ditempatkan pada bagian
tangga atau dan railing. Lampu jenis ini merupakan sumber lampu aksen
yang baik.

.jpg)
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar